Langsung ke konten utama

Asa yang Rapuh

Terlihat ragu aku melangkah dalam goyah
Berlari kencang aku meninggalkan sesal dalam luka
Terasa pilu rasa yang tak kunjung musnah
Bagai tak tersentuh angin sejuk dalam surga

Entah berpijak pada hati yang mana

Jalanmu tak pernah bisa ku tebak
Awalnya ku kira namaku sempat singgah dalam hatimu
Tapi mungkin tak se-kuat namanya yang menghiasi dinding hatimu

Bertahan bukanlah perkara mudah untuk hati yang goyah
Tapi bayangmu terus memaksaku untuk terus menyimpannya walau setengah mati aku mencoba membunuhnya

Matamu terkadang menarikku kembali masuk ke dalam dimensi yang terus membuatku sekarat

Lelah aku berputar pada permainan ini, terkadang kau membuatku menyerah tapi terkadang pula kau membuatku bangkit dan seolah menikmati permainan yang kau mulai

Bagai meniup kapas putih dalam udara, semakin aku berhembus bahagia semakin jauh pula kau meninggalkan hembusan nafasku.
Memilih terbang bersama angin, tanpa pernah kau jawab dia atau aku

Seperti tempat persinggahan.. Terkadang kau datang saat luka duka menghampirmu, atau kembali padaku saat kau gagal dalam pertaruhan yang membuatmu lemah

Harusnya sedari dulu aku membentengi hatiku agar tak mudah runtuh, tapi ironinya.. Aku baru membangun benteng itu saat pondasi ku sudah terlalu rapuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disini

Aku duduk di kursi ini lagi.. Warnanya yang telah usang terkutuk waktu Sanggahannya telah rontok tergigit sisa kenangan di masa lalu Aku seperti melihat diriku dalam selimut tawa yang renyah saat belasan tahun silam aku terduduk di sanggahan ini Suasana yang tak ramai seperti dulu membuatku bertanya dalam jiwa "sampai kapan aku bisa terus membuatnya bahagia, seperti saat dulu tawa renyahku menjadi lagu nan indah untuknya?" Kini terlihat dibalik kelopak mata nya arti lelah yang bertubi-tubi Menambah warna putih di sekujur rambutnya Bermainkan dengan nyanyian sepi mengiri hari Aku tak berhenti menghardik diriku sendiri Karena begitu angkuh dan tak sadar diri Akan harta yang masih ku miliki Aku menemukan setiap bongkahan diriku di sudut sudut Rumah ini Aku sering bertanya siapakah aku yang sesungguhnya Sosok aku yang merasuk dalam raga yang terlihat mencoba untuk tegar namun angkuh Kini rumah ini terasa sempit sesak dengan banyak cerita bersejarah dalam kehidupanku...

tentang kegagalan

Beranjak

Sepanjang perjalanan say a mengagumi sosok engkau, sampai pula saya kepayang menghadapi bayang yang mampir dalam bunga mimpi Berjarak jauh dalam hati, namun nun dekat di mata, bagaimana saya bisa berucap rindu pada engkau? Jikalau bertemu saya tak mampu melihat sudut mata kau dalam linangan yang penuh dengan kehangatan Bagaimana cara saya menghadapi tiap serpihan hati ini yang selalu hancur setiap kali nama saya tak kunjung bisa kau lafal Malang nya hati ini , tak bisa saya menampung tiap bisik dusta yang terus megotori hati yang sudah tak suci. Jikalau bisa saya menggenggam tangan engkau, ingin rasanya saya beritahu engkau bahwa tak ada bunga yang lebih indah selain engkau , sekalipun hanya menjadi bunga mimpi dalam malam malam saya yang kelam Apalah arti hati yang keruh ini, mencintai sosok engkau yang begitu bersih, tinggi akan ilmu , dekat dengan Tuhan, dan kokoh dalam tindak. Jikalau sampai akhir hayat saya, saya tak mampu jua memiliki hati engkau, tak usahlah perlu kau ...