Langsung ke konten utama

Singkat dan Terpikat I

Dibawah desiran hujan yang jatuh, ada seorang pemuda berkaca mata, tinggi, memakai jacket biru pekat sedang duduk di halte sambil mendekap tubuhnya sendiri.



"boleh ku duduk disampingmu?" seorang wanita menghampirinya
"silahkan saja" 
"hmmm... cuacanya begitu dingin ya, anginnya pun seperti sedang mengamuk saja. hmm" 
"haha" bastian hanya tersenyum kecil padanya
"kau sedang menunggu siapa?"  tanyaku
"menunggu? aku tak pernah menunggu seorang wanita selain mama ku."
          

 "sungguhkah? cowok setampanmu tak memiliki kekasih?" agaknya terdengar begitu                     
 "kekasih?wanita? aku tidak pernah dekat dengan seorang wanita selain mamaku, bahkan aku tak   pernah tahu wanita itu makhluk Tuhan yang seperti apa." 
 "omaigaattt" kenya menjatuhkan dirinya di bangku-bangku halte, setelah beberapa kali ia menatap       bastian dnegan penuh heran.



"jakarta....jakarta...jakarta..." tiba-tiba bus melintas tepat di depan mereka, kenya langsung melambaikan tangan pada knek tersebut.

"hei!! aku duluan yaa..! teruslah menunggu ya!! hehehe" kenya langsung masuk di bus dengan gesit, bastian itu hanya memangdangnya datar. walau sebenarnya sedari tadi ia menahan gugup detak jantungnya yang begitu kencang saat wanita yang tidak dikenalinya berada disampingnya.

****


Komentar

Postingan populer dari blog ini

tentang kegagalan

Dalam Sekejap

dalam sekejap kemarin.. kau baik kemarin kau ceria kemarin kau baik-baik saja tapi kini kau diam tapi kini kau acuhkanku tapi kini kau berubah mengapa begitu cepat mengapa begitu sangat cepat ku tak mengerti jalan fikiran dirimu sungguh beriku alasan yang pasti untuk semua ini dalam sekejap kau meninggalkan ku

Meradang

Angka demi angka berguguran jatuh tepat pada permukaan ruang yang lemah, terlihat jelas rekam jejak beberapa tahun silam. Keadaan ini bukan hanya sekali habis, tapi terus terulang seperti radio rusak yang mengeluarkan suara sumbang. Mungkin sumbangnya bukanlah suatu masalah apabila didengar oleh seorang kakek lanjut usia , bahkan kejamnya duniapun terlihat tak enak di dengar apabila keluar dari suara radio yang sudah tak lagi berjaya. Diam. Mungkin hanya diamlah yang seharusnya dilakukan oleh radio itu , karena bicara hanyalah hal klasik kisah di masa silam hanya sebagian orang bodoh yang mau senantiasa untuk mendengarnya, seharusnya tak ada lagi rasa angkuh padanya, karena sudah selayaknya yang buruk harus terpuruk. Kini telah banyak tulisan buruk menghiasi tiap deretan riwayat hidup , siapa bilang setiap jiwa akan kuat menahannya? Luka batin yang dirasakan bukan kepalang. Ketika sengatan listrik menyambar sanubari dalam hati , ada rasa harap yang kian mencuat menjadi sebuah kekuat...