Langsung ke konten utama

Berakhir Abu-abu

      meratap daun berguguran jatuh... mendengakan kepala tepat di bawah daun-daun berguguran. sore itu Loli sedang duduk di sebuah taman beberapa dari mereka asik bercengkrama dengan sahabat ataupun kekasihnya. tetapi loli memilih sendiri dan ditemani dengan tablet di tangannya.

"coba tebak siapa gue?" tiba-tiba seseorang menutup mata loli dengan dua telapak tangannya.
"ih siapa nih?" jawab loli resah sambil meraba tangan yang ada di matanya
"hahaha nih buat lu" seseorang itu melepas tangannya dan beralih duduk di samping loli.
"lu...lu...lu fardiano kan?"
"menurut lo? gue siapa? mosnter?" 
"gak gitu juga sih.."


"eh nih, tadi gue beliin lu burger nih. gue inget lu pasti kelaperan. hahaha" ledeknya pada loli
"sial!! gue gak gitu-gitu banget yah!"
"hehheh iya iya maaf" mereka larut dalam keindahan di sore hari itu, tanpa terasa matahari mulai pamit dari mereka berdua meminta izin untuk kembali ke pelataran. 

                                    ke-esokan harinya


"lama, gak ketemu lu kemana aja far?
"sengaja hilang dari pelataran"
"maksdunya?"
"gue sekarang udah punya kekasih"

deg!!!!! hati loli seperti ditusuk ribuan peluru! matanya hampir-hampir saja mengeluarkan air.

"lol? lu kenapa? kok... lu sakit yah?"
"ah.. enggak. gapapa."
"gue sayang banget sama dia" lanjur fardiano
"oh ya? selamat yah semoga langgeng..."
"makasih lol."




selama ini loli menutup hatinya kepada lelaki manapun kecuali diano yang mampu menerobos dinding hatinya yang kokoh. loli hanya berharap diano bisa mengisi suudut hatinya yang telah lama membiru oleh penantian. namun penantianpun tak cukup merubah biru menjadi merah, tak cukup merubah hitam menjadi putih. hingga.... semuanya berakhir abu-abu.!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disini

Aku duduk di kursi ini lagi.. Warnanya yang telah usang terkutuk waktu Sanggahannya telah rontok tergigit sisa kenangan di masa lalu Aku seperti melihat diriku dalam selimut tawa yang renyah saat belasan tahun silam aku terduduk di sanggahan ini Suasana yang tak ramai seperti dulu membuatku bertanya dalam jiwa "sampai kapan aku bisa terus membuatnya bahagia, seperti saat dulu tawa renyahku menjadi lagu nan indah untuknya?" Kini terlihat dibalik kelopak mata nya arti lelah yang bertubi-tubi Menambah warna putih di sekujur rambutnya Bermainkan dengan nyanyian sepi mengiri hari Aku tak berhenti menghardik diriku sendiri Karena begitu angkuh dan tak sadar diri Akan harta yang masih ku miliki Aku menemukan setiap bongkahan diriku di sudut sudut Rumah ini Aku sering bertanya siapakah aku yang sesungguhnya Sosok aku yang merasuk dalam raga yang terlihat mencoba untuk tegar namun angkuh Kini rumah ini terasa sempit sesak dengan banyak cerita bersejarah dalam kehidupanku...

tentang kegagalan

Beranjak

Sepanjang perjalanan say a mengagumi sosok engkau, sampai pula saya kepayang menghadapi bayang yang mampir dalam bunga mimpi Berjarak jauh dalam hati, namun nun dekat di mata, bagaimana saya bisa berucap rindu pada engkau? Jikalau bertemu saya tak mampu melihat sudut mata kau dalam linangan yang penuh dengan kehangatan Bagaimana cara saya menghadapi tiap serpihan hati ini yang selalu hancur setiap kali nama saya tak kunjung bisa kau lafal Malang nya hati ini , tak bisa saya menampung tiap bisik dusta yang terus megotori hati yang sudah tak suci. Jikalau bisa saya menggenggam tangan engkau, ingin rasanya saya beritahu engkau bahwa tak ada bunga yang lebih indah selain engkau , sekalipun hanya menjadi bunga mimpi dalam malam malam saya yang kelam Apalah arti hati yang keruh ini, mencintai sosok engkau yang begitu bersih, tinggi akan ilmu , dekat dengan Tuhan, dan kokoh dalam tindak. Jikalau sampai akhir hayat saya, saya tak mampu jua memiliki hati engkau, tak usahlah perlu kau ...