Langsung ke konten utama

untukmu yang berseru "jangan seperti mereka!"



Wahai laksana mentari menyinari..
Kami ini binatang jalang dari sekumpulan yang terbuang
Seberapa hina hati kami ini?
Menoreh luka teramat dalam di palung hati ini..
Kami sama sepertimu, ingin bebas mengekspresikan diri kami
Tapi mengapa kau jadikan kami kambing hitam revolusi ?
Benar katamu, kami tak lebih dari binatang jalang
Kami hanya ingin suara kami menggema ibu pertiwi
Membasmi semua kuasa yang telah menjajah pikiran kami
Habis darah mempertahankan angka, habis darah mempertahankan gemuruh batin
Sakit hati kami sama seperti rasa sakit yang dirasakan gunung anak Krakatau, jikalau tiba saatnya kami yang akan menghabismu dengan semburan lahar panas yang mengalir dari segala penjuru magma dalam batin kami
Jikalau kau lebih baik daripada generasi kami, mengapa kau jual bumi pertiwi? Mengapa kau tak memiliki nurani? Mengapa kau KORUPSI??!
Kami adalah tulang yang berserakan tapi ditanganmulah 
 tulang itu menjadi berarti(jika kau peduli)


                                                                                                Kambing hitam revolusi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dalam Sekejap

dalam sekejap kemarin.. kau baik kemarin kau ceria kemarin kau baik-baik saja tapi kini kau diam tapi kini kau acuhkanku tapi kini kau berubah mengapa begitu cepat mengapa begitu sangat cepat ku tak mengerti jalan fikiran dirimu sungguh beriku alasan yang pasti untuk semua ini dalam sekejap kau meninggalkan ku

tentang kegagalan

kembali kasih :)

      aku sama seperti manusia yang lain, terkadang manusia khilaf! ya khilaf benar katamu! melihat yang jauh-jauh begitu teliti, tetapi yang di depan mata selalu saja lolos dari pandangan dan perhatian.  bukan.. bukan maksudku untuk seolah tak menganggapmu atau apalah itu, tapi...tapi.. apa yah? semacam sugesti yang telah merasuk di otakku seolah aku memang "harus" bersama mereka. bukan berarti aku tak "membutuhkanmu" juga, aku butuh, butuh sama terbiasa itu beda loh ya?. serba bingung kalau begini, dilema juga... tapi percayalah, ini memang terkesan tak adil tapi inilah yang terbaik.  apakah kalau saling "membutuhkan" itu harus selalu bersama? selalu berpadu? tidak kan? . dan apakah kalau "membutuhkan" itu akan hilang hanya lantaran tak bersama? tidak kan?. lantas? apa permasalahannya lagi? . ada saatnya kita selalu bersama dan ada saatnya kita berpisaha. bukankah setiap pertemuan pasti akan bermuara ke perpisahan juga? yasudah.... angga...