Langsung ke konten utama

Selamat tinggal ..

Aku rasa, aku sudah tak cukup kuat untuk menjadi pengagum rahasia. Juga sudah tak pantas memanggil namamu dalam sunyi.sungguh tak pantas. Ibarat air yang mengalir dari hulu ke hilir, hidupku harus terus berjalan sekalipun aku harus menerima hujaman tajam ketika aku sudah sampai di hilir. Dan kamu? Mungkin kamu akan tetap di hulu, dan bagaimanapun alasannya pasti aku akan meninggalkanmu sekalipun sakit hujaman itu. Aku tak mau mengaggumimu seperti udara, yang tak henti-hentinya memberi kebahagiaan untukmu tapi kau malah merusak udara dengan polusi perbuatanmu itu. Sungguh ironis,bertepuk sebelah tangan.
Aku juga tak mau merindumu seperti hujan. Yang terkadang kau membenci hujan karena kau tak harapkan kehadiran itu,padahal di sisilain hujan selalu di butuhkan saat kekeringan melanda. Tapi kamu? Kamu malah menghardik hujan itu. Kasihan sekali.

Roda terus berputar, aku juga tak ingin berhenti mengayuhnya, mungkin.. Jalanmu memang bukan jalanku, aku akan jadi pelangi yang ketika bumi mulai cerah dan sudah tak ada perpaduan antara hujan dan panas, aku akan pergi walau ada yang mendesis "sudah hilang?" tapi mungkin kata-kata itu takkan terucap dalam lisanmu.

"jika kau tak dapat melaju dengan cepat. Maka melangkahlah sekalipun itu sakit. Ini hidupmu! Hanya milikmu! Kau lah nahkodanya"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tentang kegagalan

Dalam Sekejap

dalam sekejap kemarin.. kau baik kemarin kau ceria kemarin kau baik-baik saja tapi kini kau diam tapi kini kau acuhkanku tapi kini kau berubah mengapa begitu cepat mengapa begitu sangat cepat ku tak mengerti jalan fikiran dirimu sungguh beriku alasan yang pasti untuk semua ini dalam sekejap kau meninggalkan ku

Meradang

Angka demi angka berguguran jatuh tepat pada permukaan ruang yang lemah, terlihat jelas rekam jejak beberapa tahun silam. Keadaan ini bukan hanya sekali habis, tapi terus terulang seperti radio rusak yang mengeluarkan suara sumbang. Mungkin sumbangnya bukanlah suatu masalah apabila didengar oleh seorang kakek lanjut usia , bahkan kejamnya duniapun terlihat tak enak di dengar apabila keluar dari suara radio yang sudah tak lagi berjaya. Diam. Mungkin hanya diamlah yang seharusnya dilakukan oleh radio itu , karena bicara hanyalah hal klasik kisah di masa silam hanya sebagian orang bodoh yang mau senantiasa untuk mendengarnya, seharusnya tak ada lagi rasa angkuh padanya, karena sudah selayaknya yang buruk harus terpuruk. Kini telah banyak tulisan buruk menghiasi tiap deretan riwayat hidup , siapa bilang setiap jiwa akan kuat menahannya? Luka batin yang dirasakan bukan kepalang. Ketika sengatan listrik menyambar sanubari dalam hati , ada rasa harap yang kian mencuat menjadi sebuah kekuat...