Langsung ke konten utama

Dalam mimpi

Suatu pagi yang indah

Mengalun gelak tawa diiringi kesenangan yang menggugah. Aku dan kasih sayangmu berpaut dalam suka dan duka.
Baru saja semalam senyummu mampir dalam bunga tidur ku, semua terasa indah dan dekat. Tapi kini.. Hari ini.. Adalah hari terakhir saat aku bisa berada 3 meter dekat darimu.terakhir ya terakhir. Aku potret wajahmu dalam ingatanku di hari ini, meski kau tak tahu diam-diam aku telah membidik bayangmu pada sorot mataku. Meski hari ini kau sangat seadanya. Tapi aku bahagia.

Belum pernah aku dengar kamu sebut namaku dalam sebuah lafalan tanpa teks. Belum sedikitpun. Tapi dalam mimpi itu? Kau mengulang-ulang memanggil namaku dengan ekspresi tak ingin kehilangan.
Mungkin kau tak tahu saat mataku menangkap bayangmu dan kita berada pada posisi berhadapan, hatiku selalu berkata "hai.. Semoga harimu cerah di hari ini" tapi kau takkan melihat sorot mataku , maka aku lebih memilih untuk menunduk dan berlalu.

Terimakasih.. Terimakasih telah nengembalikan senyumku seperti dulu, memulihkannya seperti dulu, dan kini.. Biarlah aku yang panggi-panggil namamu dengan ekspresi tak ingin kehilangan seperti di mimpi itu. Biarlah.. Jikalau sampai kapanpun aku hanya menjadi sebuah kapas, biarlah aku yg mengusap lembut wajahmu.

Kalau ada puzzle yang telah hilang lalu mengembalikan lagi ke seperti semula itu adalah hadirmu, dan puzzle itu kini harus kosong kembali karena kepergianmu"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tentang kegagalan

Dalam Sekejap

dalam sekejap kemarin.. kau baik kemarin kau ceria kemarin kau baik-baik saja tapi kini kau diam tapi kini kau acuhkanku tapi kini kau berubah mengapa begitu cepat mengapa begitu sangat cepat ku tak mengerti jalan fikiran dirimu sungguh beriku alasan yang pasti untuk semua ini dalam sekejap kau meninggalkan ku

Meradang

Angka demi angka berguguran jatuh tepat pada permukaan ruang yang lemah, terlihat jelas rekam jejak beberapa tahun silam. Keadaan ini bukan hanya sekali habis, tapi terus terulang seperti radio rusak yang mengeluarkan suara sumbang. Mungkin sumbangnya bukanlah suatu masalah apabila didengar oleh seorang kakek lanjut usia , bahkan kejamnya duniapun terlihat tak enak di dengar apabila keluar dari suara radio yang sudah tak lagi berjaya. Diam. Mungkin hanya diamlah yang seharusnya dilakukan oleh radio itu , karena bicara hanyalah hal klasik kisah di masa silam hanya sebagian orang bodoh yang mau senantiasa untuk mendengarnya, seharusnya tak ada lagi rasa angkuh padanya, karena sudah selayaknya yang buruk harus terpuruk. Kini telah banyak tulisan buruk menghiasi tiap deretan riwayat hidup , siapa bilang setiap jiwa akan kuat menahannya? Luka batin yang dirasakan bukan kepalang. Ketika sengatan listrik menyambar sanubari dalam hati , ada rasa harap yang kian mencuat menjadi sebuah kekuat...