Langsung ke konten utama

Sketsa

Aku baru tahu rasa sakitnya kehilangan setelah kamu benar-benar hilang dalam skala klasik itu. Masih adakah kesempatan untukku lagi? Karena hanya dengan itu aku bisa merasa memilikimu walau tidak penuh.

Karena dalam diam aku membenarkan tiap kata yang kau ucap, juga diam-diam aku perhatikan tiap warna corak yang kau gunakan. Hijau?merah?biru?coklat?ah.. Rasanya menawan sekali.

Juga banyak sebagian orang yang menerka ini sebagai kemilau yang tersembunyi, kalau memang begitu aku harap tempat persembunyian kita sama. Meski aneh dalam logika dan berlebihan dalam kata, aku tahu aku melankolis.

*sampai bertemu di hari yang telah ku janjikan*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dalam Sekejap

dalam sekejap kemarin.. kau baik kemarin kau ceria kemarin kau baik-baik saja tapi kini kau diam tapi kini kau acuhkanku tapi kini kau berubah mengapa begitu cepat mengapa begitu sangat cepat ku tak mengerti jalan fikiran dirimu sungguh beriku alasan yang pasti untuk semua ini dalam sekejap kau meninggalkan ku

tentang kegagalan

kembali kasih :)

      aku sama seperti manusia yang lain, terkadang manusia khilaf! ya khilaf benar katamu! melihat yang jauh-jauh begitu teliti, tetapi yang di depan mata selalu saja lolos dari pandangan dan perhatian.  bukan.. bukan maksudku untuk seolah tak menganggapmu atau apalah itu, tapi...tapi.. apa yah? semacam sugesti yang telah merasuk di otakku seolah aku memang "harus" bersama mereka. bukan berarti aku tak "membutuhkanmu" juga, aku butuh, butuh sama terbiasa itu beda loh ya?. serba bingung kalau begini, dilema juga... tapi percayalah, ini memang terkesan tak adil tapi inilah yang terbaik.  apakah kalau saling "membutuhkan" itu harus selalu bersama? selalu berpadu? tidak kan? . dan apakah kalau "membutuhkan" itu akan hilang hanya lantaran tak bersama? tidak kan?. lantas? apa permasalahannya lagi? . ada saatnya kita selalu bersama dan ada saatnya kita berpisaha. bukankah setiap pertemuan pasti akan bermuara ke perpisahan juga? yasudah.... angga...