Langsung ke konten utama

Edisi idola

Melihat wajahmu di layar bening 32 inchi. Awalnya aku tak tahu kalau ternyata layar itu menampakkan sorot matamu yang khas, meski dalam konteks yang berbeda.

Sulit mendeskripsikan nya walau terkesan biasa dan casual tetap saja di mataku itu spesial.

Huhaw!! Gue nge fans abeesss -_- baru kali ini gue memiliki idola setelah 3 tahun fakum , terakhir punya idola pas masa alay. Dan baru kali ini gue punya idola yang dengan bener bener melek mata gue ngerasainnya. Najwa shihab. You know lah~ seorang presenter dengan tatapan mata laksana belati yang siap menujam tiap lontaran kalimat hingga tak kuasa untuk merintih .
She's smart and beautiful .

Pernah gue nge mentions mmm.. Enak nya manggil apa? Mmm tante? Ummh kayaknya dia gak bakal setuju. Oke ka najwa. Huhewwhehe :D gue pernah mention "@najwashihab inspiratif bangetlah, i am is your big fans!" hahah tapi ga dibales :D wkwk wajar sih. Sebenernya gue ngefans emang karena smart nya sih, gaya bicaranya yang cepet tapi berkualitas. Meskipun di beberapa moment dia terlihat lebih santai.
Gue rasa curhat gue udh lebih dari 10 lembar. Hahah bye. Love <3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dalam Sekejap

dalam sekejap kemarin.. kau baik kemarin kau ceria kemarin kau baik-baik saja tapi kini kau diam tapi kini kau acuhkanku tapi kini kau berubah mengapa begitu cepat mengapa begitu sangat cepat ku tak mengerti jalan fikiran dirimu sungguh beriku alasan yang pasti untuk semua ini dalam sekejap kau meninggalkan ku

tentang kegagalan

kembali kasih :)

      aku sama seperti manusia yang lain, terkadang manusia khilaf! ya khilaf benar katamu! melihat yang jauh-jauh begitu teliti, tetapi yang di depan mata selalu saja lolos dari pandangan dan perhatian.  bukan.. bukan maksudku untuk seolah tak menganggapmu atau apalah itu, tapi...tapi.. apa yah? semacam sugesti yang telah merasuk di otakku seolah aku memang "harus" bersama mereka. bukan berarti aku tak "membutuhkanmu" juga, aku butuh, butuh sama terbiasa itu beda loh ya?. serba bingung kalau begini, dilema juga... tapi percayalah, ini memang terkesan tak adil tapi inilah yang terbaik.  apakah kalau saling "membutuhkan" itu harus selalu bersama? selalu berpadu? tidak kan? . dan apakah kalau "membutuhkan" itu akan hilang hanya lantaran tak bersama? tidak kan?. lantas? apa permasalahannya lagi? . ada saatnya kita selalu bersama dan ada saatnya kita berpisaha. bukankah setiap pertemuan pasti akan bermuara ke perpisahan juga? yasudah.... angga...