Langsung ke konten utama

Untuk Apa Aku Hidup?

Terbersit tentang masa depan. Kuliah, mungkin kalo kuliah gue masih bisa lah. Cuman pas denger kata "kerja"? , gue bingung.

Toh gaada jaminan kalau kita lulus kuliah sudah pasti mendapat kerja yang sesuai dengan kemauan kita, minimal sesuai passion kita, kan gaada yang tau. Angka pengangguran pun makin banyak. So? What should i do?

Kan gaada yang tau, mungkin aja supir angokot yang tiap hari lu naiki angkotnya, dia juga lulusan S1 ? Siapa yang tahu? Gaada.

Jujur aja gue juga rada bingung pas denger kata "magang" , "interview" "lamaran kerja" gue gak ngerti. Apa yang harus gue lakuin? Dipersiapin? Dan blablablabla. Terlebih lagi background gue juga bukan anak SMK. Huhft -_-

Kalo mikirin begituan jadi inget perkataan "kalau sekedar hidup, babi hutan juga hidup, tapi untuk apa aku hidup?" yap! Pepatah itu mengingatkan gue, kalo hidup itu bukan sebuah usaha kita, melainkan memang sudah nikmat dari sang kuasa, tapi bagaimana kita menjadikan hidup itu menjadi berarti, bukan  sekedar untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain.

So? Mulai dari sekarang pikiran lu nambah lagi, bukan lagi "gue mau kuliah dimana?" "gue mau kerja apa?" tapi tanyakan lagi pada diri masing masing . "untuk apa aku hidup?"*diucapkan dengan nada renungan yang positif, bukan dengan nada keputus asaan*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tentang kegagalan

Dalam Sekejap

dalam sekejap kemarin.. kau baik kemarin kau ceria kemarin kau baik-baik saja tapi kini kau diam tapi kini kau acuhkanku tapi kini kau berubah mengapa begitu cepat mengapa begitu sangat cepat ku tak mengerti jalan fikiran dirimu sungguh beriku alasan yang pasti untuk semua ini dalam sekejap kau meninggalkan ku

Meradang

Angka demi angka berguguran jatuh tepat pada permukaan ruang yang lemah, terlihat jelas rekam jejak beberapa tahun silam. Keadaan ini bukan hanya sekali habis, tapi terus terulang seperti radio rusak yang mengeluarkan suara sumbang. Mungkin sumbangnya bukanlah suatu masalah apabila didengar oleh seorang kakek lanjut usia , bahkan kejamnya duniapun terlihat tak enak di dengar apabila keluar dari suara radio yang sudah tak lagi berjaya. Diam. Mungkin hanya diamlah yang seharusnya dilakukan oleh radio itu , karena bicara hanyalah hal klasik kisah di masa silam hanya sebagian orang bodoh yang mau senantiasa untuk mendengarnya, seharusnya tak ada lagi rasa angkuh padanya, karena sudah selayaknya yang buruk harus terpuruk. Kini telah banyak tulisan buruk menghiasi tiap deretan riwayat hidup , siapa bilang setiap jiwa akan kuat menahannya? Luka batin yang dirasakan bukan kepalang. Ketika sengatan listrik menyambar sanubari dalam hati , ada rasa harap yang kian mencuat menjadi sebuah kekuat...