Langsung ke konten utama

Epilog


Seorang anak bawang yang memiliki IQ rata rata rendah, semenit bergelut dengan angka rasanya dunia sudah kiamat, jauh dari kata pintar , jauh dari kata rajin. Gimana masa depan nya nanti?

Menjadi anak muda yang tak briliant, sertifikat  prestasi  belum ada satupun, yang palsu sekalipun nggak ada.

Anak malas yang hanya bisa Bicara besar berkoar-koar tapi dalamnya tak ada isinya(?) , namun... Cita cita nya seluas jagad raya melebihi cita cita para jenius. Bahkan cita cita nya berbanding terbalik dengan kemampuannya.

Anak yang banyak mendapat penilaian, penilaian yang negatif tentang dirinya, dan.. Status "berhasilnya" belum terwujud

Seorang anak yang tak memiliki paham ilmu yang banyak disuruh bertarung dengan para manusia yang telah jenius dari lahirnya, dan selalu luluh dengan kata kata "APA YANG NGGAK MUNGKIN DI DUNIA INI?"

Memiliki gengsi yang tinggi dan rasa percaya diri yang rendah. Hidup di keluarga yang tak memiliki nama harum juga tak tersohor. Hidup sederhana dalam lingkup rumah kecil 5 x 12 m .

Anak buangan , dan berada di sebuah jurusan yang kental akan diskriminatif serta rasis .

Seorang hamba yang sangat rendah, yang iman nya tak sebesar butir beras, tapi permohonannya luar biasa banyaknya.

Ia tuna cinta, sering dilema akan problema hati yang tak terselesaikan.

Dan akan selalu menjadi pengemis kepada-Nya

Yang hingga kini... Selalu menggantungkan "mimpi" hanya dengan sang pencipta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dalam Sekejap

dalam sekejap kemarin.. kau baik kemarin kau ceria kemarin kau baik-baik saja tapi kini kau diam tapi kini kau acuhkanku tapi kini kau berubah mengapa begitu cepat mengapa begitu sangat cepat ku tak mengerti jalan fikiran dirimu sungguh beriku alasan yang pasti untuk semua ini dalam sekejap kau meninggalkan ku

tentang kegagalan

kembali kasih :)

      aku sama seperti manusia yang lain, terkadang manusia khilaf! ya khilaf benar katamu! melihat yang jauh-jauh begitu teliti, tetapi yang di depan mata selalu saja lolos dari pandangan dan perhatian.  bukan.. bukan maksudku untuk seolah tak menganggapmu atau apalah itu, tapi...tapi.. apa yah? semacam sugesti yang telah merasuk di otakku seolah aku memang "harus" bersama mereka. bukan berarti aku tak "membutuhkanmu" juga, aku butuh, butuh sama terbiasa itu beda loh ya?. serba bingung kalau begini, dilema juga... tapi percayalah, ini memang terkesan tak adil tapi inilah yang terbaik.  apakah kalau saling "membutuhkan" itu harus selalu bersama? selalu berpadu? tidak kan? . dan apakah kalau "membutuhkan" itu akan hilang hanya lantaran tak bersama? tidak kan?. lantas? apa permasalahannya lagi? . ada saatnya kita selalu bersama dan ada saatnya kita berpisaha. bukankah setiap pertemuan pasti akan bermuara ke perpisahan juga? yasudah.... angga...