Langsung ke konten utama

Redup

Kalo gitu.. Izinkan aku menjatuhkan air mata ini, karena tumbuh sebagai anak yang tak cemerlang.

menahan iri bukan main di palung hati yang terdalam..

Aku tau diriku yang salah
diriku yang begitu mudah putus asa, dan diriku yang tak pernah mencoba menjadi yang bercahaya

Jika ini alasan dari segala alasan yang ada, aku sadar diri. Memang pantas aku kau campakkan.

Merintih iri, berdoa di dalam hati, memantaskan diri, hingga akhirnya aku mampu menunjukan jati diri.

Aku seperti bintang di siangnya hari, tak terlihat sinarnya dan tak tergambarkan wajahnya.. Tapi siapa yang tak dapat melihatku di gelapnya malam? Bukankah aku mampu bercahaya? Hanya saja kau butuh waktu untuk bisa melihatku bercahaya..

Kapan? Aku tak dapat pastikan.

Wajar. Wajar saja kau begitu, karena bermodalkan ketulusan pun tak cukup, tak cukup membeli waktumu untuk sekedar menunggu.

Hinalah aku sehina-hina nya kata-katamu jika itu mampu membeli masa depanku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tentang kegagalan

Dalam Sekejap

dalam sekejap kemarin.. kau baik kemarin kau ceria kemarin kau baik-baik saja tapi kini kau diam tapi kini kau acuhkanku tapi kini kau berubah mengapa begitu cepat mengapa begitu sangat cepat ku tak mengerti jalan fikiran dirimu sungguh beriku alasan yang pasti untuk semua ini dalam sekejap kau meninggalkan ku

Meradang

Angka demi angka berguguran jatuh tepat pada permukaan ruang yang lemah, terlihat jelas rekam jejak beberapa tahun silam. Keadaan ini bukan hanya sekali habis, tapi terus terulang seperti radio rusak yang mengeluarkan suara sumbang. Mungkin sumbangnya bukanlah suatu masalah apabila didengar oleh seorang kakek lanjut usia , bahkan kejamnya duniapun terlihat tak enak di dengar apabila keluar dari suara radio yang sudah tak lagi berjaya. Diam. Mungkin hanya diamlah yang seharusnya dilakukan oleh radio itu , karena bicara hanyalah hal klasik kisah di masa silam hanya sebagian orang bodoh yang mau senantiasa untuk mendengarnya, seharusnya tak ada lagi rasa angkuh padanya, karena sudah selayaknya yang buruk harus terpuruk. Kini telah banyak tulisan buruk menghiasi tiap deretan riwayat hidup , siapa bilang setiap jiwa akan kuat menahannya? Luka batin yang dirasakan bukan kepalang. Ketika sengatan listrik menyambar sanubari dalam hati , ada rasa harap yang kian mencuat menjadi sebuah kekuat...