Langsung ke konten utama

Secuil dendam

Di samping jendela sebuah lembaga yang disebut-sebut sebagai tempat "meraih mimpi" entah.. Pada kenyataanya banyak yang melenceng dari garis dan tujuan utama.

Seperti para veteran dulu yang berperang dengan senjata terangkat yang siap membunuh musuh secara langsung atau sekelompok intelek yang mulai muncul setelah diadakannya politik etis.

Aku berperang dengan pena, dengan berbagai macam sistem yang membuat gila. Nilai adalah tolak ukur keberhasilan. Hah. Padahal tak satupun orang sukses di dunia ini ingat tentang rumus geometri atau perkalian sekalipun karena semua dilakukan dengan robot. Manusia masa depan aku yakin bukan hanya menyerahkan segerombol angka pada mesin melainkan juga dirinya sendiri yang akan di kerahkan oleh mesin.

Semua ini membuat ku gila,pekik,pelik sekali memikirkan angka yang kian menurun.

Musik menjadi teman di sedikit waktu yang tersisa.
Tugas menjadi kerabat baik dalam waktu yang panjang .
Handphone sebagai teman yang tiada tandingannya.

Isu politik, korupsi, insflasi, bahkan hutang negara pada luar negeri menjadi bumbu penyedap rasa hari hari kami, yang dimakan dengan penuh emosi dan rasa panas yang ada pada jiwa yang membara. Namun cepat habis dan hilang.

Memaki pejabat yang korupsi bukankah sudah jadi hirupan napas tiap hari?

Menuntut keadilan yang enggan terlaksana bukankah sudah biasa?

Bukankah banyak disekitar kita yang membahas  tentang kesalahan sistemis? Hah. Tetap saja mereka tutup kuping akan hal itu.

Lihatlah.... Betapa kita mengeluh, melenguh kesakitan? Meneriakan keadilan dan bersikap seperti korban? Namun pernahkah mereka memikirkan?

Bodoh. Bahkan otakku terperangkap hingar bingar yang mereka janjikan jikalau kami bekerja keras. Pengangguran tetap banyak! Bahkan sekolah tinggi dengan nilai tinggi  tak mampu menjamin masa depanku.

Kebencian.. Mungkin itu yang ku dapat dari semua pelajaran yang masuk pada pemikiranku. Kebencian yang jelas terarah dan pasti kan membalasnya. Namun aku tidakkan gila seperti mereka.

Lihatlah... Betapa sehatnya otak kita ini? Mampu memfiltrasi semua hipotesa para orang gila itu. Terlalu banyak manipulasi disini. Entah.. Mungkin kemudian hari aku yang jadi pelakunya. Entah.. Bukankah tak ada yang bisa dipercaya di negeri ini?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tentang kegagalan

Dalam Sekejap

dalam sekejap kemarin.. kau baik kemarin kau ceria kemarin kau baik-baik saja tapi kini kau diam tapi kini kau acuhkanku tapi kini kau berubah mengapa begitu cepat mengapa begitu sangat cepat ku tak mengerti jalan fikiran dirimu sungguh beriku alasan yang pasti untuk semua ini dalam sekejap kau meninggalkan ku

Meradang

Angka demi angka berguguran jatuh tepat pada permukaan ruang yang lemah, terlihat jelas rekam jejak beberapa tahun silam. Keadaan ini bukan hanya sekali habis, tapi terus terulang seperti radio rusak yang mengeluarkan suara sumbang. Mungkin sumbangnya bukanlah suatu masalah apabila didengar oleh seorang kakek lanjut usia , bahkan kejamnya duniapun terlihat tak enak di dengar apabila keluar dari suara radio yang sudah tak lagi berjaya. Diam. Mungkin hanya diamlah yang seharusnya dilakukan oleh radio itu , karena bicara hanyalah hal klasik kisah di masa silam hanya sebagian orang bodoh yang mau senantiasa untuk mendengarnya, seharusnya tak ada lagi rasa angkuh padanya, karena sudah selayaknya yang buruk harus terpuruk. Kini telah banyak tulisan buruk menghiasi tiap deretan riwayat hidup , siapa bilang setiap jiwa akan kuat menahannya? Luka batin yang dirasakan bukan kepalang. Ketika sengatan listrik menyambar sanubari dalam hati , ada rasa harap yang kian mencuat menjadi sebuah kekuat...