Langsung ke konten utama

Minyak bagai emas

Gue gamau munafik di postingan kali ini, jujur sih gue kecewa pas tau BBM naik, ya.. Walaupun gue udah tau pemberitaan itu dari jauh jauh hari. Sebagai warga negara yang baik ya its oke, tapi sebagai rakyat yang belum mapan dalam perekonomian sih gue kecewa.

Gue gamau munafik , hanya karena gue sempet pro sama nomor 2 jadi gue membanggakan semua programnya, kalo ternyata programnya membuat kecewa ya gue bilang kecewa, toh.. Gue disini berperan sebagai generasi muda yang belum berkecukupan ekonomi dan liar dalam ber-argumentasi bukan sebagai pendukung yang fanatis.

Disisi lain gue sadar, kalo BBM itu udah banyak menyita dan membobol APBN, dan juga subsidi gak tepat sasaran. Yap gue tau itu.

Tapi lagi-lagi gue disini berperan sebagai rakyat biasa bukan ahli ekonom atau apalah itu , mungkin emang gue ga ngerti tentang seluk beluk begituan, ya anggap aja gue rakyat yang miskin ilmu.

Minyak naik disaat keadaan minyak dunia menurun, kenapa harus di naikkan? , kalaupun ada alokasi subsidi di bidang lain its oke. Tapi ini semua terlalu sulit kalo di klasifikasikan sebagai sebuah kebijakan? Entah kenapa gue anggep ini sebagai skenario. Dari awal, bukan di hal ini aja. Di banyak hal lain.

Oke.. Sekarang lu bisa bilang gue munafik, karena awalnya ngebela mati-matian tapi pas ada konflik gue malah berdalih. Silahkan tertawa.

Gue juga cuman manusia biasa kan? Yang bisa percaya dengan lidah dan buayan manis? Tapi gue juga gabisa bilang 100% kalo pilihan gue salah. Karena apa? Karena benar/salah itu bukan kekuasaan gue.

Tapi kalaupun anda ingin menghujat ke munafikan saya , silahkan. Semoga ke munafikan saya bisa terhapus dengan cacian dan hujatan anda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tentang kegagalan

Dalam Sekejap

dalam sekejap kemarin.. kau baik kemarin kau ceria kemarin kau baik-baik saja tapi kini kau diam tapi kini kau acuhkanku tapi kini kau berubah mengapa begitu cepat mengapa begitu sangat cepat ku tak mengerti jalan fikiran dirimu sungguh beriku alasan yang pasti untuk semua ini dalam sekejap kau meninggalkan ku

Meradang

Angka demi angka berguguran jatuh tepat pada permukaan ruang yang lemah, terlihat jelas rekam jejak beberapa tahun silam. Keadaan ini bukan hanya sekali habis, tapi terus terulang seperti radio rusak yang mengeluarkan suara sumbang. Mungkin sumbangnya bukanlah suatu masalah apabila didengar oleh seorang kakek lanjut usia , bahkan kejamnya duniapun terlihat tak enak di dengar apabila keluar dari suara radio yang sudah tak lagi berjaya. Diam. Mungkin hanya diamlah yang seharusnya dilakukan oleh radio itu , karena bicara hanyalah hal klasik kisah di masa silam hanya sebagian orang bodoh yang mau senantiasa untuk mendengarnya, seharusnya tak ada lagi rasa angkuh padanya, karena sudah selayaknya yang buruk harus terpuruk. Kini telah banyak tulisan buruk menghiasi tiap deretan riwayat hidup , siapa bilang setiap jiwa akan kuat menahannya? Luka batin yang dirasakan bukan kepalang. Ketika sengatan listrik menyambar sanubari dalam hati , ada rasa harap yang kian mencuat menjadi sebuah kekuat...