Langsung ke konten utama

Beranjak

Sepanjang perjalanan saya mengagumi sosok engkau, sampai pula saya kepayang menghadapi bayang yang mampir dalam bunga mimpi

Berjarak jauh dalam hati, namun nun dekat di mata, bagaimana saya bisa berucap rindu pada engkau? Jikalau bertemu saya tak mampu melihat sudut mata kau dalam linangan yang penuh dengan kehangatan

Bagaimana cara saya menghadapi tiap serpihan hati ini yang selalu hancur setiap kali nama saya tak kunjung bisa kau lafal

Malang nya hati ini , tak bisa saya menampung tiap bisik dusta yang terus megotori hati yang sudah tak suci.

Jikalau bisa saya menggenggam tangan engkau, ingin rasanya saya beritahu engkau bahwa tak ada bunga yang lebih indah selain engkau , sekalipun hanya menjadi bunga mimpi dalam malam malam saya yang kelam

Apalah arti hati yang keruh ini, mencintai sosok engkau yang begitu bersih, tinggi akan ilmu , dekat dengan Tuhan, dan kokoh dalam tindak.

Jikalau sampai akhir hayat saya, saya tak mampu jua memiliki hati engkau, tak usahlah perlu kau ingat nama saya, tapi bolehkah saya simpan nama engkau di sanubari yang kotor ini?

Jikalau nama saya tak kunjung menjadi bersinar seperti nama engkau, tak akan lagi saya mau mendekati engkau

Ibarat sebuah pena , seindah dan semahal apapun tinta yang saya pakai untuk menulis surat cinta pada engkau , takkan bisa jadi indah jikalau engkau tak sudi untuk melihat terlebih lagi membalasnya

Tiarap saya menunggu engkau di sudut sudut kelemahan saya, saya mencoba menjadi kecintaan engkau meski saya tahu engkau tak pernah lihat saya bahkan dalam bayangan pun engkau tak bisa

engkau begitu sempurna bersamanya, tak usah kau berpikir lagi tentang saya, karena saya akan segera tenggelam , dan tak perlu jua engkau berucap kasih pada saya, karena saya akan beranjak dari rasa sakit yang ada



Komentar

Postingan populer dari blog ini

tentang kegagalan

Dalam Sekejap

dalam sekejap kemarin.. kau baik kemarin kau ceria kemarin kau baik-baik saja tapi kini kau diam tapi kini kau acuhkanku tapi kini kau berubah mengapa begitu cepat mengapa begitu sangat cepat ku tak mengerti jalan fikiran dirimu sungguh beriku alasan yang pasti untuk semua ini dalam sekejap kau meninggalkan ku

Meradang

Angka demi angka berguguran jatuh tepat pada permukaan ruang yang lemah, terlihat jelas rekam jejak beberapa tahun silam. Keadaan ini bukan hanya sekali habis, tapi terus terulang seperti radio rusak yang mengeluarkan suara sumbang. Mungkin sumbangnya bukanlah suatu masalah apabila didengar oleh seorang kakek lanjut usia , bahkan kejamnya duniapun terlihat tak enak di dengar apabila keluar dari suara radio yang sudah tak lagi berjaya. Diam. Mungkin hanya diamlah yang seharusnya dilakukan oleh radio itu , karena bicara hanyalah hal klasik kisah di masa silam hanya sebagian orang bodoh yang mau senantiasa untuk mendengarnya, seharusnya tak ada lagi rasa angkuh padanya, karena sudah selayaknya yang buruk harus terpuruk. Kini telah banyak tulisan buruk menghiasi tiap deretan riwayat hidup , siapa bilang setiap jiwa akan kuat menahannya? Luka batin yang dirasakan bukan kepalang. Ketika sengatan listrik menyambar sanubari dalam hati , ada rasa harap yang kian mencuat menjadi sebuah kekuat...