Langsung ke konten utama

Jarum di tumpukan jerami

Masih,

Prasangka yang anda temui saat ini bukanlah yang sebenarnya, karena pada kenyataannya sulit bukan menemukan jarum di tumpukan jerami?

Ya, anda tau persis berapa ukuran dan warna jarum yang sedang anda cari pada tumpukan jerami itu, tapi mengapa masih juga sulit menemukannya?

Sama seperti mencari tiap bongkahan hati yang telah Anda rusak dan kini anda menghardik saya untuk mengembalikannya utuh? Lalu anda melenggang dengan mudah dan berseru " kau pasti bisa mencari jarum itu diantara tumpukan jerami, bukankah kau sosok yang kuat?"

Cih...

Jerami itu sama saja seperti perkataan anda, banyak dan menumpuk di sudut ladang dan siap untuk di bakar sehingga cepat, cepat menjadi abu lalu di jual oleh kakek paruh baya sebagai bahan untuk memoles peralatan rumah tangga.

Merasa di butuhkan? Ya, benar anda masih sangat dibutuhkan. Tapi apakah harganya masih mahal?

Seharusnya anda sadar jarum itu takkan pernah berubah Tapi sialnya..anda membuang tepat pada tumpukan jerami itu, jerami yang tak layak untuk dipandang lagi. Dan pada saat yang bodoh anda mengais tiap tumpukan jerami untuk kembali menemukan jarumnya

Semua terpaku pada anda, karena tak selayaknya lagi mengais yang telah dibuang bukan? Lebih naif dari apapun bukan? Lalu? Tinggalkan saja semuanya, anggap anda tak pernah membuang ataupun menemukan jarum itu. Bukankah selesai perkara anda tuan?

Rasa penyesalan anda sudah tak renyah lagi untuk di dengar, sama garingnya seperti anda memakan jerami yang telah dijemur ribuan hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disini

Aku duduk di kursi ini lagi.. Warnanya yang telah usang terkutuk waktu Sanggahannya telah rontok tergigit sisa kenangan di masa lalu Aku seperti melihat diriku dalam selimut tawa yang renyah saat belasan tahun silam aku terduduk di sanggahan ini Suasana yang tak ramai seperti dulu membuatku bertanya dalam jiwa "sampai kapan aku bisa terus membuatnya bahagia, seperti saat dulu tawa renyahku menjadi lagu nan indah untuknya?" Kini terlihat dibalik kelopak mata nya arti lelah yang bertubi-tubi Menambah warna putih di sekujur rambutnya Bermainkan dengan nyanyian sepi mengiri hari Aku tak berhenti menghardik diriku sendiri Karena begitu angkuh dan tak sadar diri Akan harta yang masih ku miliki Aku menemukan setiap bongkahan diriku di sudut sudut Rumah ini Aku sering bertanya siapakah aku yang sesungguhnya Sosok aku yang merasuk dalam raga yang terlihat mencoba untuk tegar namun angkuh Kini rumah ini terasa sempit sesak dengan banyak cerita bersejarah dalam kehidupanku...

tentang kegagalan

Beranjak

Sepanjang perjalanan say a mengagumi sosok engkau, sampai pula saya kepayang menghadapi bayang yang mampir dalam bunga mimpi Berjarak jauh dalam hati, namun nun dekat di mata, bagaimana saya bisa berucap rindu pada engkau? Jikalau bertemu saya tak mampu melihat sudut mata kau dalam linangan yang penuh dengan kehangatan Bagaimana cara saya menghadapi tiap serpihan hati ini yang selalu hancur setiap kali nama saya tak kunjung bisa kau lafal Malang nya hati ini , tak bisa saya menampung tiap bisik dusta yang terus megotori hati yang sudah tak suci. Jikalau bisa saya menggenggam tangan engkau, ingin rasanya saya beritahu engkau bahwa tak ada bunga yang lebih indah selain engkau , sekalipun hanya menjadi bunga mimpi dalam malam malam saya yang kelam Apalah arti hati yang keruh ini, mencintai sosok engkau yang begitu bersih, tinggi akan ilmu , dekat dengan Tuhan, dan kokoh dalam tindak. Jikalau sampai akhir hayat saya, saya tak mampu jua memiliki hati engkau, tak usahlah perlu kau ...