Langsung ke konten utama

Merapi Berhitung

Hempasan masa telah bergulir seiring dengan lindasan waktu, ya waktu yang melaju cepat di depan mata sang Mpu-nya. Seratus...dua ratus...tiga ratus... Hingga beribu-ribu detik telah berlalu , seperti menujam pada sebuah lembah di bawah kaki gunung merapi, teduh,rindang,sejuk, tapi menyesatkan. Menyesatkan bagi mereka-mereka yang terbuai hanya karena keindahan.

Berdaun rimba nan teduh, berwarna hijau nan menawan, berakar kuat nan kokoh,bertanah gambut nan subur,tapi siap menerkam merek-mereka yang tak punya arah tujuan.

Hening. Gelap. Dingin. Hampa . Bagi mereka-mereka yang sulit keluar dari rindangngnya lembah hutan.

Kutemukan sumber mata air yang jernih, ku hanya ikuti kemana itlrama air itu berhilir , berkelok-kelok menyusuri lembah. Bukan, bukan tak pasti. Hanya saja butuh kemauan dan kesabaran agar bisa sampai ke hilir. Setidaknya aku punya suatu peta alami yang bisa kujadikan alasan untuk keluar, keluar dari rimbanya lembah di bawah kaki Merapi.

Merapi... Begitu kokoh, bahkan mampu menjadi tiang-tiang pulau Jawa, menjadi tiang penyanggah agar tidak goyah, tempat bermukim sebagian besar insan indonesia.

Tapi jangan kau sentuh magmanya..
Jangan kau sentuh amarahnya..
Jangan kau sentuh kebahagiaannya..

Karena...

Tak selamanya yang dapat kau sentuh mampu menjadi jinak kepadamu, dan tak selamanya yang kokoh akan selalu kokoh. Percayalah... Semua tinggal hitungan mundur...

Mulailah berhitung......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tentang kegagalan

Dalam Sekejap

dalam sekejap kemarin.. kau baik kemarin kau ceria kemarin kau baik-baik saja tapi kini kau diam tapi kini kau acuhkanku tapi kini kau berubah mengapa begitu cepat mengapa begitu sangat cepat ku tak mengerti jalan fikiran dirimu sungguh beriku alasan yang pasti untuk semua ini dalam sekejap kau meninggalkan ku

Meradang

Angka demi angka berguguran jatuh tepat pada permukaan ruang yang lemah, terlihat jelas rekam jejak beberapa tahun silam. Keadaan ini bukan hanya sekali habis, tapi terus terulang seperti radio rusak yang mengeluarkan suara sumbang. Mungkin sumbangnya bukanlah suatu masalah apabila didengar oleh seorang kakek lanjut usia , bahkan kejamnya duniapun terlihat tak enak di dengar apabila keluar dari suara radio yang sudah tak lagi berjaya. Diam. Mungkin hanya diamlah yang seharusnya dilakukan oleh radio itu , karena bicara hanyalah hal klasik kisah di masa silam hanya sebagian orang bodoh yang mau senantiasa untuk mendengarnya, seharusnya tak ada lagi rasa angkuh padanya, karena sudah selayaknya yang buruk harus terpuruk. Kini telah banyak tulisan buruk menghiasi tiap deretan riwayat hidup , siapa bilang setiap jiwa akan kuat menahannya? Luka batin yang dirasakan bukan kepalang. Ketika sengatan listrik menyambar sanubari dalam hati , ada rasa harap yang kian mencuat menjadi sebuah kekuat...