Langsung ke konten utama

politik jalan mati



Aku menjadi lakon dalam sebuah drama klasik yang tak pernah menarik
Berupaya keras mewujudkan setiap hak yang terbilang klasik
Sering disebut tak berguna, dan tak perlu ditanya
Tentang  berbagai praduga yang merasuk pada jiwa, aku bukan sosok yang memiliki tahta
Roda waktu terus menerkam, selalu dengan persoalan yang terbilang kelam
Suaraku tercekik, begitu kering seperti saat musim paceklik
Begitu banyak orang yang tak mengerti cara menghargai, hanya berpangku tangan pada kepemimpinan negeri tirani
Asas demokrasi terus dijunjung tinggi. tapi, pada prakteknya semua hanya ilusi
Banyak yang berkata politik bagaikan memilih jalan mati, kalau tak mau mati maka harus bagi-bagi
Persoalan sambung menyambung suara sudah lama menjadi profesi, hanya saja terlalu banyak yang percaya pada pencuri
Para petinggi selalu berkata “inilah tugas generasi selanjutnya”
tak perlu ditampik, pada kenyatannya kami hanya dijadikan taktik agar kekuasaannya tak terusik
Disaat banyak yang menghardik tentang kinerja yang tak baik, barulah mulai mencari perhatian agar berhenti berkutik
Semuanya seperti tertutup dalam tirai yang kumal, terdiri dari beberapa praktek rekayasa yang kental
Begitu banyak kekayaan yang terjual, tapi tetap saja begitu mudah melenggang tanpa ada rasa menyesal
Disaat perekonomian mulai jatuh, datanglah  para ahli dari negeri antah-barantah
Semua kalang kabut dalam kemelut , begitupula para penguasa yang sibuk berganti profesi sebagai ahli tutup mulut



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dalam Sekejap

dalam sekejap kemarin.. kau baik kemarin kau ceria kemarin kau baik-baik saja tapi kini kau diam tapi kini kau acuhkanku tapi kini kau berubah mengapa begitu cepat mengapa begitu sangat cepat ku tak mengerti jalan fikiran dirimu sungguh beriku alasan yang pasti untuk semua ini dalam sekejap kau meninggalkan ku

tentang kegagalan

kembali kasih :)

      aku sama seperti manusia yang lain, terkadang manusia khilaf! ya khilaf benar katamu! melihat yang jauh-jauh begitu teliti, tetapi yang di depan mata selalu saja lolos dari pandangan dan perhatian.  bukan.. bukan maksudku untuk seolah tak menganggapmu atau apalah itu, tapi...tapi.. apa yah? semacam sugesti yang telah merasuk di otakku seolah aku memang "harus" bersama mereka. bukan berarti aku tak "membutuhkanmu" juga, aku butuh, butuh sama terbiasa itu beda loh ya?. serba bingung kalau begini, dilema juga... tapi percayalah, ini memang terkesan tak adil tapi inilah yang terbaik.  apakah kalau saling "membutuhkan" itu harus selalu bersama? selalu berpadu? tidak kan? . dan apakah kalau "membutuhkan" itu akan hilang hanya lantaran tak bersama? tidak kan?. lantas? apa permasalahannya lagi? . ada saatnya kita selalu bersama dan ada saatnya kita berpisaha. bukankah setiap pertemuan pasti akan bermuara ke perpisahan juga? yasudah.... angga...