Langsung ke konten utama

Menuju profesor (eps 1)

Kalau ada pemilihan umum dan kau kandidatnya tanpa ragu jariku memilih..
Jika boleh aku utarakan idolaku pasti diriku tak meragukanmu..
Dan jika bisa otak-ku bicara pasti banyak sel otaku yang meneriakan namamu..
Dan jikalau ada cendekiawan dari golonganku yang berperan dalam hidupku pasti kaulah satu diantaranya..
Dan jikalau ada kesedihan yang kurasakan adalah disaat ku harus meng-ikhlaskanmu..

Maafkan atas tulisanku, atas tulisan lancang dan tak berbobot ini. Aku tak meng-agungkanmu. Bagaimana pun aku tau tulisanku kali ini salah.

Prof.. Walaupun gelarmu masih dalam proses.. Tapi biarlah sebutan itu sebagai doaku untuk kelancaranmu dalam meraihnya.

Aku tau sehalus kapas pun, namaku belom terukir dalam hatimu. Jangankan hatimu.. Aku yakin.. Matamu juga tak mengenaliku. Biarlah itu berlalu..

"walau tak lebih dari 3 detik pertemuan terakhir , bahkan.. Salam ku juga tak sempat kau jawab. Aku hanya ingin mengatakan terima kasih.."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tentang kegagalan

Dalam Sekejap

dalam sekejap kemarin.. kau baik kemarin kau ceria kemarin kau baik-baik saja tapi kini kau diam tapi kini kau acuhkanku tapi kini kau berubah mengapa begitu cepat mengapa begitu sangat cepat ku tak mengerti jalan fikiran dirimu sungguh beriku alasan yang pasti untuk semua ini dalam sekejap kau meninggalkan ku

Meradang

Angka demi angka berguguran jatuh tepat pada permukaan ruang yang lemah, terlihat jelas rekam jejak beberapa tahun silam. Keadaan ini bukan hanya sekali habis, tapi terus terulang seperti radio rusak yang mengeluarkan suara sumbang. Mungkin sumbangnya bukanlah suatu masalah apabila didengar oleh seorang kakek lanjut usia , bahkan kejamnya duniapun terlihat tak enak di dengar apabila keluar dari suara radio yang sudah tak lagi berjaya. Diam. Mungkin hanya diamlah yang seharusnya dilakukan oleh radio itu , karena bicara hanyalah hal klasik kisah di masa silam hanya sebagian orang bodoh yang mau senantiasa untuk mendengarnya, seharusnya tak ada lagi rasa angkuh padanya, karena sudah selayaknya yang buruk harus terpuruk. Kini telah banyak tulisan buruk menghiasi tiap deretan riwayat hidup , siapa bilang setiap jiwa akan kuat menahannya? Luka batin yang dirasakan bukan kepalang. Ketika sengatan listrik menyambar sanubari dalam hati , ada rasa harap yang kian mencuat menjadi sebuah kekuat...