Langsung ke konten utama

Selamat datang kembali

Selamat datang kembali

Masih ingat beberapa waktu silam? Saat aku masih begitu lugu menerima pernyataan cintamu? Saat kamu pun masih lugu mengakui perasaanmu, masih ingatkah? Aku masih mengingatnya.

Aku tak tahu sejak kapan aku mulai berharap. Ya, berharap kau masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu.bodoh? Iya benar, aku terlihat bodoh.

Dan entah dari mana datangnya, sekarang menjadi begitu dekat. jujur aku masih merasa takut, takut salah meletakan hatiku lagi. Aku memiliki kisah yang pilu, yang membuatku takut, begitu takut.

Tapi perlahan, kehadiranmu mampu membuka jengkal demi jengkal ruang yang lama telah ku kunci, terkunci begitu rapat seperti tak berpenghuni dan kau mulai memasuki ruang itu. Masih terasa suasana dingin dan hampa yang menyergap.

Ku akui masih banyak celah kekurangan pada diriku, tapi aku ingin memulainya dari awal, hanya perlu ajari aku, ajari aku dan bebaskan dari rasa takutku.

Dingin.

Aku tau terkadang sikapku dingin, tapi bukan berarti aku tak mengerti arti dari sorot matamu.

Entah cepat atau lambat, entah dapat kau lihat atau tidak, entah kau merasa atau tidak, sepertinya aku mulai rindu. kau tahu, berkata mengenai rindu rasanya ingin sekali aku berlari menjauhinya, aku tak mau terintimidasi oleh kata "Rindu" yang terkesan memilukan.

Kau sempat berkata mengenai mantan, apakah aku punya mantan? Aku jawab punya..

Yaitu kau, dari dulu hingga sekarang ya hanya namamu, aku tak memungkiri, aku sempat jatuh hati pada yang lain, tapi tak pernah sampai ke posisi yang dulu sempat kau singgahi.

Kadang...

Tanpa sadar senyumku merekah saat mendapati namamu di layar ponselku, gila, rasanya seperti manusia gila, benar. Aku tak tahu benar atau tidak tindakanku, tapi kalau kau terganggu, bilang saja, biar aku perlahan menjauh.

Berlebihankah? Maafkan atas tulisanku yang begitu tak penting ini, entah kau niat membacanya atau tidak

Sesuatu yang pergi mungkin sulit untuk kembali, tapi masih bisakah terulang kembali? Yakinkan aku, dengan filosofi cinta terbarumu

Pada malam yang hampir larut, tapi mata belum juga merasakan kantuk.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disini

Aku duduk di kursi ini lagi.. Warnanya yang telah usang terkutuk waktu Sanggahannya telah rontok tergigit sisa kenangan di masa lalu Aku seperti melihat diriku dalam selimut tawa yang renyah saat belasan tahun silam aku terduduk di sanggahan ini Suasana yang tak ramai seperti dulu membuatku bertanya dalam jiwa "sampai kapan aku bisa terus membuatnya bahagia, seperti saat dulu tawa renyahku menjadi lagu nan indah untuknya?" Kini terlihat dibalik kelopak mata nya arti lelah yang bertubi-tubi Menambah warna putih di sekujur rambutnya Bermainkan dengan nyanyian sepi mengiri hari Aku tak berhenti menghardik diriku sendiri Karena begitu angkuh dan tak sadar diri Akan harta yang masih ku miliki Aku menemukan setiap bongkahan diriku di sudut sudut Rumah ini Aku sering bertanya siapakah aku yang sesungguhnya Sosok aku yang merasuk dalam raga yang terlihat mencoba untuk tegar namun angkuh Kini rumah ini terasa sempit sesak dengan banyak cerita bersejarah dalam kehidupanku...

tentang kegagalan

Beranjak

Sepanjang perjalanan say a mengagumi sosok engkau, sampai pula saya kepayang menghadapi bayang yang mampir dalam bunga mimpi Berjarak jauh dalam hati, namun nun dekat di mata, bagaimana saya bisa berucap rindu pada engkau? Jikalau bertemu saya tak mampu melihat sudut mata kau dalam linangan yang penuh dengan kehangatan Bagaimana cara saya menghadapi tiap serpihan hati ini yang selalu hancur setiap kali nama saya tak kunjung bisa kau lafal Malang nya hati ini , tak bisa saya menampung tiap bisik dusta yang terus megotori hati yang sudah tak suci. Jikalau bisa saya menggenggam tangan engkau, ingin rasanya saya beritahu engkau bahwa tak ada bunga yang lebih indah selain engkau , sekalipun hanya menjadi bunga mimpi dalam malam malam saya yang kelam Apalah arti hati yang keruh ini, mencintai sosok engkau yang begitu bersih, tinggi akan ilmu , dekat dengan Tuhan, dan kokoh dalam tindak. Jikalau sampai akhir hayat saya, saya tak mampu jua memiliki hati engkau, tak usahlah perlu kau ...