Langsung ke konten utama

Postingan

Permainan peran

Pada situasi yang begitu pelik menerkam, saat saya harus berlaga seperti seorang pemain peran yang handal, menyekahkan sedikit senyum simpul, bermainkan dengan sedikit kata-kata yang terdengar parau. Menghindar tiap beberapa mata menyorot pada saya, berusaha mengalihkan setiap pandangan itu, agar mereka tak melihat titik lemah dalam diri ini . Tetap, bukankah saya masih terlihat menggemaskan bukan? Saya masih bisa berlaga seperti pelawak bukan? Setidaknya membuat anda sedikit berpikir bahwa saya masih seperti biasa. Dan nampaknya anda hanyut dalam permainan saya . Kini, tiap kali saya bercermin , saya selalu bergurau pada diri sendiri "mau menggunakan topeng yang mana lagi nyonya? Nampaknya semuanya telah kau pakai, dan nampaknya mereka mulai hanyut dalan permainanmu! Lanjutkanlah" Saya hanya ingin seperti biasa, tanpa harus menjawab pertanyaan "mengapa" "kenapa" bagaimana" dan seterusnya yang justru membuat saya semakin nampak lemah, maka janganl...

Jarum di tumpukan jerami

Masih, Prasangka yang anda temui saat ini bukanlah yang sebenarnya, karena pada kenyataannya sulit bukan menemukan jarum di tumpukan jerami? Ya, anda tau persis berapa ukuran dan warna jarum yang sedang anda cari pada tumpukan jerami itu, tapi mengapa masih juga sulit menemukannya? Sama seperti mencari tiap bongkahan hati yang telah Anda rusak dan kini anda menghardik saya untuk mengembalikannya utuh? Lalu anda melenggang dengan mudah dan berseru " kau pasti bisa mencari jarum itu diantara tumpukan jerami, bukankah kau sosok yang kuat?" Cih... Jerami itu sama saja seperti perkataan anda, banyak dan menumpuk di sudut ladang dan siap untuk di bakar sehingga cepat, cepat menjadi abu lalu di jual oleh kakek paruh baya sebagai bahan untuk memoles peralatan rumah tangga. Merasa di butuhkan? Ya, benar anda masih sangat dibutuhkan. Tapi apakah harganya masih mahal? Seharusnya anda sadar jarum itu takkan pernah berubah Tapi sialnya..anda membuang tepat pada tumpukan jerami itu,...

Habis bensin bertemunya

Hari ini emang bad day banget buat gua. Jadi ceritanya gini, awalnya kan gua pulang nih setelah menuntut ilmu di tempat les, gua pulang sekitar jam 19.00 karena emang jadwalnya gak sampe malem banget, nah gua asik deh bawa motor seperti jomblo biasanya(?)pas gua liat bensin gua, gila udah mepet banget!! Melebihi batas wajar dan hanya menunggu ajal itumah, gua kan was-was ya, soalnya pom bensin masih jauh tapi kalo gua beli eceran rugi, maklumlah. Hahaha nah gua mencoba berdoa disepanjang jalan supaya gak mogok , dan sampailah gua di pom bensin dan langsung ngantri , ternyata.. Motor gua mati disitu! Pas di depan abang-abangnya tapi gua gak ngeh banget, nah mulailah gua ngisi bensin premium bernominal 10 ribu, maklumlah. Setelah semuanya selesai, gua coba stater motor gua tapi ga bisa nyala-nyala, mulailah gua panik bercucuran keringat yang wangi, gua terus berusaha tanpa menyerah, gua coba " sela " motor gua, tapi sialnya tetep aja ga bisa, kaki gua rasanya udah mau copot. S...

Meradang

Angka demi angka berguguran jatuh tepat pada permukaan ruang yang lemah, terlihat jelas rekam jejak beberapa tahun silam. Keadaan ini bukan hanya sekali habis, tapi terus terulang seperti radio rusak yang mengeluarkan suara sumbang. Mungkin sumbangnya bukanlah suatu masalah apabila didengar oleh seorang kakek lanjut usia , bahkan kejamnya duniapun terlihat tak enak di dengar apabila keluar dari suara radio yang sudah tak lagi berjaya. Diam. Mungkin hanya diamlah yang seharusnya dilakukan oleh radio itu , karena bicara hanyalah hal klasik kisah di masa silam hanya sebagian orang bodoh yang mau senantiasa untuk mendengarnya, seharusnya tak ada lagi rasa angkuh padanya, karena sudah selayaknya yang buruk harus terpuruk. Kini telah banyak tulisan buruk menghiasi tiap deretan riwayat hidup , siapa bilang setiap jiwa akan kuat menahannya? Luka batin yang dirasakan bukan kepalang. Ketika sengatan listrik menyambar sanubari dalam hati , ada rasa harap yang kian mencuat menjadi sebuah kekuat...

hanya dilema

Gak kerasa sekarang gua udah kelas 12 aja, padahal masih inget banget baru aja kemaren gua pake pakean anak yang baru masuk SMA yang masih imut dan konyol itu. Sekarang gua berada di posisi dimana dulu ketika gua masih kecil sering banget membatin “untung gua masih umur segini, gak setua kakak itu” sambil menatap iba kepada anak-anak SMA jaman dulu yang mungkin sekarang udah pada sibuk dan asik ngurus keluarganya . hahaha Gua mau mengklarifikasi disni karena gua banyak banget nemuin kata-kata kalo “ SMA adalah masa-masa dimana lo bisa nemuin jati diri lo ! ” mungkin mesti gua kutip kali ya makna dari “ jati diri ” disitu, karena apa? Sumpah kok gua malah ga nemuin jati diri gua ya? Apa belom kali ya? Karena pada kenyataannya gua masih gatau dan bingung dengan diri gua sendiri. Gua masih kayak ngeraba-raba, apa guanya aja yang telat kali ya? Tapi, yasudahlah berharap gua segera menemukan jati diri gua. Hahhah Gua ngerasa banget sih beban hidup jadi semakin berat seiring den...
Apakah aku harus bermandikan madu agar bisa kau bilang manis? Apakah aku harus bergaya seperti permadani yang selalu kau kagumi? Apakah aku harus berlutut pada sebuah penantian yang hingga kini masih terus ku pertanyakan? Hatiku bukan lagi sakit kali ini, tapi sudah benar benar mati rasa, tak bisa lagi merasakan apapun. Hanya tinggal rongga yang kosong,kering dan selayaknya dibuang. Pantas mungkin aku disiasiakan.

Disini

Aku duduk di kursi ini lagi.. Warnanya yang telah usang terkutuk waktu Sanggahannya telah rontok tergigit sisa kenangan di masa lalu Aku seperti melihat diriku dalam selimut tawa yang renyah saat belasan tahun silam aku terduduk di sanggahan ini Suasana yang tak ramai seperti dulu membuatku bertanya dalam jiwa "sampai kapan aku bisa terus membuatnya bahagia, seperti saat dulu tawa renyahku menjadi lagu nan indah untuknya?" Kini terlihat dibalik kelopak mata nya arti lelah yang bertubi-tubi Menambah warna putih di sekujur rambutnya Bermainkan dengan nyanyian sepi mengiri hari Aku tak berhenti menghardik diriku sendiri Karena begitu angkuh dan tak sadar diri Akan harta yang masih ku miliki Aku menemukan setiap bongkahan diriku di sudut sudut Rumah ini Aku sering bertanya siapakah aku yang sesungguhnya Sosok aku yang merasuk dalam raga yang terlihat mencoba untuk tegar namun angkuh Kini rumah ini terasa sempit sesak dengan banyak cerita bersejarah dalam kehidupanku...