Langsung ke konten utama

Postingan

Klise

Kembali pada kisah klasik itu, kisah yang mungkin saja sudah tak merdu lagi bagi para pendengarnya. Bergulir ke sini lagi, seperti ombak yang tiada habisnya menggulung air di lautan, walau lautan luas tak berbatas, deburan ombak juga tetap terasa geram di pesisirnya. Walau indah dan tenang melihat luas lautan , tapi siapa yang menyangka laut yang luas pun kadang merintih tersibak ombak. Huft. Di tengah hati yang tenang, kadang rasa itu hadir, hadir seperti ombak yang menggulung-gulung palung hati, namun akhirnya pun kandas hanya dengan hitungan detik. Lalu datang lagi, hilang, dan begitu seterusnya. Kalau ada kaktus tumbuh di gersangnya padang pasir pastilah ia menjadi primadona diantara yang lain. Lalu bagaimana bila kaktus tumbuh di tengah hutan musim? Pasti auranya kalah dengan warna warni tumbuhan lain. Lemah... Kokoh lalu rapuh Bangkit dan jatuh lagi Lupa namun tetap teringat

Minyak bagai emas

Gue gamau munafik di postingan kali ini, jujur sih gue kecewa pas tau BBM naik, ya.. Walaupun gue udah tau pemberitaan itu dari jauh jauh hari. Sebagai warga negara yang baik ya its oke, tapi sebagai rakyat yang belum mapan dalam perekonomian sih gue kecewa. Gue gamau munafik , hanya karena gue sempet pro sama nomor 2 jadi gue membanggakan semua programnya, kalo ternyata programnya membuat kecewa ya gue bilang kecewa, toh.. Gue disini berperan sebagai generasi muda yang belum berkecukupan ekonomi dan liar dalam ber-argumentasi bukan sebagai pendukung yang fanatis. Disisi lain gue sadar, kalo BBM itu udah banyak menyita dan membobol APBN, dan juga subsidi gak tepat sasaran. Yap gue tau itu. Tapi lagi-lagi gue disini berperan sebagai rakyat biasa bukan ahli ekonom atau apalah itu , mungkin emang gue ga ngerti tentang seluk beluk begituan, ya anggap aja gue rakyat yang miskin ilmu. Minyak naik disaat keadaan minyak dunia menurun, kenapa harus di naikkan? , kalaupun ada alokasi subsidi...

Minyak bagai emas

Gue gamau munafik di postingan kali ini, jujur sih gue kecewa pas tau BBM naik, ya.. Walaupun gue udah tau pemberitaan itu dari jauh jauh hari. Sebagai warga negara yang baik ya its oke, tapi sebagai rakyat yang belum mapan dalam perekonomian sih gue kecewa. Gue gamau munafik , hanya karena gue sempet pro sama nomor 2 jadi gue membanggakan semua programnya, kalo ternyata programnya membuat kecewa ya gue bilang kecewa, toh.. Gue disini berperan sebagai generasi muda yang belum berkecukupan ekonomi dan liar dalam ber-argumentasi bukan sebagai pendukung yang fanatis. Disisi lain gue sadar, kalo BBM itu udah banyak menyita dan membobol APBN, dan juga subsidi gak tepat sasaran. Yap gue tau itu. Tapi lagi-lagi gue disini berperan sebagai rakyat biasa bukan ahli ekonom atau apalah itu , mungkin emang gue ga ngerti tentang seluk beluk begituan, ya anggap aja gue rakyat yang miskin ilmu. Minyak naik disaat keadaan minyak dunia menurun, kenapa harus di naikkan? , kalaupun ada alokasi subsidi...

Sepucuk surat di layar

Kau  pernah mengagumi sesorang? Seseorang yang kau anggap sempurna dalam takaran yang kau buat? Kau pernah merasa bagaimana indahnya saat dia memberimu satu kata yang mampu membuatmu membumbung jauh ke luar angkasa yang rasanya lupa jalan kembali ke bumi? Harus ku tarik dalam dalam nafasku sebelum ku memutuskan untuk mengambil tindakan bodoh ini, yap. Memulai bertanya, yang terlihat begitu konyol sekali pertanyaan itu ku lontarkan. Entah.. Rasanya sudah putus urat malu-ku. Hanya ada 2 kemungkinan .. Yaitu kau akan menjawab dengan tulus atau sebelum menjawab kau mengernyitkan keningmu seperti biasanya~ Tak terhitung sudah berapa insan yang ku kagumi, tapi kali ini sungguh hanya kau yang mampu menjadikan semua kesempurnaan itu menjadi satu. Hanya ada padamu. Bagai punuk mengharapkan bulan.. Aku ? Haha mungkin kau akan menertawakanku dalam hatimu. Tak apa~ kau anggap aku bodoh sekalipun tak apa, asalkan aku bisa dekat denganmu. Tapi rasanya tak mungkin.. Tak mungkin orang bodoh d...

Secuil dendam

Di samping jendela sebuah lembaga yang disebut-sebut sebagai tempat "meraih mimpi" entah.. Pada kenyataanya banyak yang melenceng dari garis dan tujuan utama. Seperti para veteran dulu yang berperang dengan senjata terangkat yang siap membunuh musuh secara langsung atau sekelompok intelek yang mulai muncul setelah diadakannya politik etis. Aku berperang dengan pena, dengan berbagai macam sistem yang membuat gila. Nilai adalah tolak ukur keberhasilan. Hah. Padahal tak satupun orang sukses di dunia ini ingat tentang rumus geometri atau perkalian sekalipun karena semua dilakukan dengan robot. Manusia masa depan aku yakin bukan hanya menyerahkan segerombol angka pada mesin melainkan juga dirinya sendiri yang akan di kerahkan oleh mesin. Semua ini membuat ku gila,pekik,pelik sekali memikirkan angka yang kian menurun. Musik menjadi teman di sedikit waktu yang tersisa. Tugas menjadi kerabat baik dalam waktu yang panjang . Handphone sebagai teman yang tiada tandingannya. Isu ...

Khianat

Tekanan terberat ada pada pundaku,saksi ter-akurat ada pada telingaku, banyak setan merasuk pada jiwa ku. Menyuruhku untuk bungkan sejuta makna, diam seribu bahasa, mengangguk seperti kuda yang di kendalikan kusirnya. Sekejam ini dunia, se-parah ini kehidupan yang dipenuhi dusta. Aku terseret pada lubang dosa. Tercekik pilu pada kemelut dunia. Lari ku tergopoh.. Aku tau aku saksi. Aku melihat dengan sadar, mendengar dengan nyata, tapi ku khianati mereka. Tersenyum manis lalu berkata "entahlah.. Aku pun tak tahu" . Betapa munafiknya jiwa ku, hina nya ucapanku, keparatnya hatiku. Aku tak bisa lebih lama menampung rahasia ini. Hatiku bergejolak. kadang.. Malaikat mengingatkanku untuk jujur tapi setan pun mengawasiku untuk terus berdusta. Inginku teriak, memaki semua jiwa yang tlah mati, mati.. Dan tak punya hati. Jiwa yang telah menyuruhku untuk berkhianat pada jutaan nyawa yang hidup. "aku tak bisa.. Aku tak kuat. Aku  mohon izinkanku jujur" "tidak perlu s...

Savana Hati Yang Gersang

Kadang.. Rasa itu hadir kembali di tengah-tengah kekuatan ku untuk membasminya. Rindu itu semakin liar saat aku lihat kau sedang menatap daftaran chatmu. "oh.. Ayolaahh chaat akuu" tapi entahlah semua itu musnah dan kau langsung menekan tombol close. Huft. Aku tak tahu seberapa parahnya efek cinta pertama, ternyata sangat parah. Bisa membuat tolol sekalipun dan rindu yang kian menggerogiti asa yang selalu saja lemah. Aku yakin kita sekarang sudah jalan masing-masing meraih tiap mentari yang mulai memberi sinyal untuk masuk ke alam masa depan. Tapi jujur... Sesekali aku masih suka menoleh padamu. Bodoh. Pengganti? Apa yang harus diganti? Posisimu di hatiku? Sudah lama terganti.. Sekarang masih tak bertuan. Parah... Rindu ini semakin liar rasanya ingin meledak dari tempat persembunyiannya tapi apa daya kau begitu angkuh untuk menanggapi rasaku. Kalau saja aku tak sebodoh ini, membiarkan namamu melayang jauh bersama namaku yang sampai kapanpun takkan mungkin. Rindu itu ga...