Langsung ke konten utama

Postingan

APASIH YANG GUE CARI?

Apasih yang gue cari? Kenadala terbesar dalam hidup gue adalah rasa cepat "bosan" , gue bingung sama diri gue sendiri kenapa hingga saat ini gue masih belum menemukan "jati diri" gue sendiri. Dan gue pun gak bisa menjawab pertanyaan tentang "apasih sebenernya yang gue cari?" Ex: 1. Ngebet banget waktu SMP pengen ikut karate, so gue masuk ke ekskul itu, rajin awalnya tapi endingnya selalu abu-abu 2. Ngebet banget ikut ekskul english klub, so gue gabung terus baru sekali masuk udah "bosen" 3. Sekarang gue masuk dalam suatu klub panahan, kurang lebih baru 5 bulan, dan saat ini, di pertengahan ini gue merasa "its my passion?" gue masih belum bisa membuat diri gue "gila" terhadap sesuatu. Awalnya rajin banget, at last malah jadi abu abu lagi . 4. Ngebet ikut lomba nulis atau sekedar nulis cerpen gitu gitu, tapi ya gitu di tengah jalan malah berhenti dan "bosen" (lagi) Gue gak ngerti , mungkin sebagian orang ada yan...

Untuk Apa Aku Hidup?

Terbersit tentang masa depan. Kuliah, mungkin kalo kuliah gue masih bisa lah. Cuman pas denger kata "kerja"? , gue bingung. Toh gaada jaminan kalau kita lulus kuliah sudah pasti mendapat kerja yang sesuai dengan kemauan kita, minimal sesuai passion kita, kan gaada yang tau. Angka pengangguran pun makin banyak. So? What should i do? Kan gaada yang tau, mungkin aja supir angokot yang tiap hari lu naiki angkotnya, dia juga lulusan S1 ? Siapa yang tahu? Gaada. Jujur aja gue juga rada bingung pas denger kata "magang" , "interview" "lamaran kerja" gue gak ngerti. Apa yang harus gue lakuin? Dipersiapin? Dan blablablabla. Terlebih lagi background gue juga bukan anak SMK. Huhft -_- Kalo mikirin begituan jadi inget perkataan " kalau sekedar hidup, babi hutan juga hidup, tapi untuk apa aku hidup?" yap! Pepatah itu mengingatkan gue, kalo hidup itu bukan sebuah usaha kita, melainkan memang sudah nikmat dari sang kuasa, tapi bagaimana kita menjad...

Edisi idola

Melihat wajahmu di layar bening 32 inchi. Awalnya aku tak tahu kalau ternyata layar itu menampakkan sorot matamu yang khas, meski dalam konteks yang berbeda. Sulit mendeskripsikan nya walau terkesan biasa dan casual tetap saja di mataku itu spesial. Huhaw!! Gue nge fans abeesss -_- baru kali ini gue memiliki idola setelah 3 tahun fakum , terakhir punya idola pas masa alay. Dan baru kali ini gue punya idola yang dengan bener bener melek mata gue ngerasainnya. Najwa shihab. You know lah~ seorang presenter dengan tatapan mata laksana belati yang siap menujam tiap lontaran kalimat hingga tak kuasa untuk merintih . She's smart and beautiful . Pernah gue nge mentions mmm.. Enak nya manggil apa? Mmm tante? Ummh kayaknya dia gak bakal setuju. Oke ka najwa. Huhewwhehe :D gue pernah mention "@najwashihab inspiratif bangetlah, i am is your big fans!" hahah tapi ga dibales :D wkwk wajar sih. Sebenernya gue ngefans emang karena smart nya sih, gaya bicaranya yang cepet tapi berkual...

Jengakal yang menjauh

Semua mulai bertabur melebur membaur menjadi asa yang semakin kabur.. Ada rasa yang semakin janggal, semakin membuat menjauh tiap jengkal, entah mungkin asa ku saja yang mulai terpenggal. Hal kecil yang ku rasa telah ku korbankan jauh ber-mili meter sebelum kau tinggalkan aku pada moment yang sempat ku tinggalkan itu. Aku ter abaikan pada praduga yang kian berkarat, mungkin kilauku tak sepadan dengan kilau dan kesetiaannya, tapi meragukan rasa ku juga bukan keputusan yang baik. Apakah angan kita masih sama? Atau kini anganku dan anganmu telah berjalan berjauhan?mungkin. Aku seperti bercermin padamu, aku lihat sebagian diriku ada padamu, dan sebagian tindakanmu juga pernah ku lakukan dulu. Apa kau diciptakan agar aku bisa selalu bersyukur padaNya?, mungkin.

Sketsa

Aku baru tahu rasa sakitnya kehilangan setelah kamu benar-benar hilang dalam skala klasik itu. Masih adakah kesempatan untukku lagi? Karena hanya dengan itu aku bisa merasa memilikimu walau tidak penuh. Karena dalam diam aku membenarkan tiap kata yang kau ucap, juga diam-diam aku perhatikan tiap warna corak yang kau gunakan. Hijau?merah?biru?coklat?ah.. Rasanya menawan sekali. Juga banyak sebagian orang yang menerka ini sebagai kemilau yang tersembunyi, kalau memang begitu aku harap tempat persembunyian kita sama. Meski aneh dalam logika dan berlebihan dalam kata, aku tahu aku melankolis. *sampai bertemu di hari yang telah ku janjikan*

Dalam mimpi

Suatu pagi yang indah Mengalun gelak tawa diiringi kesenangan yang menggugah. Aku dan kasih sayangmu berpaut dalam suka dan duka. Baru saja semalam senyummu mampir dalam bunga tidur ku, semua terasa indah dan dekat. Tapi kini.. Hari ini.. Adalah hari terakhir saat aku bisa berada 3 meter dekat darimu.terakhir ya terakhir. Aku potret wajahmu dalam ingatanku di hari ini, meski kau tak tahu diam-diam aku telah membidik bayangmu pada sorot mataku. Meski hari ini kau sangat seadanya. Tapi aku bahagia. Belum pernah aku dengar kamu sebut namaku dalam sebuah lafalan tanpa teks. Belum sedikitpun. Tapi dalam mimpi itu? Kau mengulang-ulang memanggil namaku dengan ekspresi tak ingin kehilangan. Mungkin kau tak tahu saat mataku menangkap bayangmu dan kita berada pada posisi berhadapan, hatiku selalu berkata "hai.. Semoga harimu cerah di hari ini" tapi kau takkan melihat sorot mataku , maka aku lebih memilih untuk menunduk dan berlalu. Terimakasih.. Terimakasih telah nengembalikan sen...

Bahagia diatas bayang-bayang

Hari ini, selasa. Bisa jadi hari ini membahagiakan, bahkan sangat. Untuk kesekian kalinya aku merasakan ini, tapi kali ini beda.. Kali ini lebih spesial. Bayang-bayang? Yah.. Bayang-bayang masa lalu yang datang menujam relung hati. Sepertinya.. Sudah cukup, cukup sampai sini saja. Karena semakin lama aku takut semakin larut dan aku terhanyut di derasnya rasa yang "takkan" pernah ada rasa. Bertopang pada rongga yang rapuh, sesekali aku jatuh,wajar. Aku bukan wonder women, jiwaku juga tak sekuat R.A Kartini. Jadi.. Aku putuskan, aku mengalah. Memang tiada perlu ucapan "selamat" dalam sebuah kebahagiaan yang terselubung itu. Tapi toh.. Aku yang berkorban lagi. Matahari saja ada waktunya untuk dia pergi, masa aku yang tak sekuat matahari masih terus bertahan tak kenal waktu?